Dengerin aja disini
Dimalam sunyi bulan menelan
Seorang diri kuterkenang
Wajah nan ayu menawan hati
Terbayang slalu padaku
Dikau kukenang slalu dalam lagu ini
Laguku ini lagu ilhamku
Terdengar kini bagimu
Dengerin aja disini
- Penyiar Bujang Pilihan (Christine)
- Satria Cumbu Rayu (Christine)
- Karena Janji (Mus DS)
- Aja Gela (Onny Suryono)
- Rini (Yolis Fiole) – lagu era 60′s
- Jumpa Dalam Mimpi (Veri & Nita) – lagu era 60′s
- Aku Hanya Bayangan (Kusnarti) – lagu era 60′s
Dengerin aja disini
Dengerin aja disini
Terima salamku dari jauh
Sebagai tanda perkenalanku
Terima salamku dari sebrang
Walaupun kita tak pernah jumpa
Kukenal wajahmu dalam lukisan
Dirumah kawanku tadi malam
Terima salamku dari jauh
Sebagai tanda perkenalanku
- Salam Perkenalan – Tuty Subardjo
- Tanpa Tujuan – Ernie Djohan
- Penghias Sanggul – Christine
- Ibu – Christine
- Melati Di Musim Kemarau – Ineke Kusumawati
- Arti Senyum – Emilia Contessa
- Kasih Di Bulan Agustus - Deddy Damhudi
- Pergi Dan Kembali – Deddy Damhudi
- Cinta – Titiek Sandhora & Muchsin
Mengenang lagu Tiar Ramon
Dengar di Sini
Tiar Ramon penyanyi dekade 60-70 an asal Sumatera Barat begitu dikenal dengan lagu melayunya. Walaupun kini telah tiada sejak Oktober tahun 2000, akan tetapi karyamu tetap dikenang. Perhatikan untuk alunan Melatiku mengingatkan akan lagu May Way. Lagu lain karya S. Effendi yang cukup terkenal yaitu Surga Di Telapak Kaki Ibu dan Fatwa Pudjangga bersama Band The Commandos dan Band Vista.
Helen Savaringga

Inilah profil seorang isteri yang selalu setia menemani sang suami tercinta dikala saat suka maupun duka.
Kali ini Helen Sparingga penyanyi asal Jawa Timur yang juga sebagai isteri setia dari Mus Mulyadi hadir dalam lagu-lagunya.
2. Masih Ada Kita Kita
3. Seuntai Puisi Untukmu
- Bukan Kau Yang Pertama
- Rindu Dan Airmata
- Antara Cinta Dan Kenyataan
- Antara Dusta Duka Dan Cinta
- Tak Mau Kumenangis
- Selamat Malam
- Kecewa
- Malam Nan Indah (orkes Seni Maya dbp Endi MS, 1963)
- Bunga Melati (band 4 Nada dbp Yadin, 1967)
- Bunga Cempaka (Zaenal Combo dbp Zaenal Arifin, 1967)
- Kau tetap Kumiliki (Zaenal Combo dbp Zaenal Arifin, 1968)
- Mawar Melati (orkes Bayu dbp F Parera, 1965)
- Putus Kasih Di Wisma Nusantara (orkes Bayu dbp F.Parera, 1965)
Lama kupandang
Bulan purnama
Dimalam permai
Malam indah
Penuh berbintang
Bagai hatiku
Yang sedang diam
Dimalam ini
Suasanapun
Kini berganti
Megah berwarna
Begitu pula
Hati yang risau
Bunga melati untukku
Kau berikan padaku
Sebagai tanda matamu
Hanya buat kasihmu
Janganlah hanya bungamu
Kuingin kau yang datang
Kuharapkan darimu
Untuk mengatakan
Harapanmu padaku
Lagu itu digarap oleh komponis kondang raja biola Idris Sardi hasil ciptaan Muslihat.
Hilda oh Hilda, inilah keluhanku
Lihatlah cintaku duhai Hilda manisku
Aku bersamamu kan kurindu wajahmu
Malam kau kuimpi-impi
Rupamu selalu terbayang
Aduhai trimalah cintaku
Namun kau tetap kunanti
Hm, hm ….. hm hm hm
Hm, hm ….. oh Hilda
Hilda (permintaan Pak. Sudja’i Sarmo)
2. Mengapa
3. Menanti
4. Kasih Nan Abadi















Ahmad Albar 

Gombloh lahir 14 Juli 1948 dengan nama Soedjarwoto Soemarsono, adalah salah satu ikon musik pop Indonesia yang mampu bermain dalam ranah idealis sekaligus mendulang sukses di ranah komersial. Setidaknya itulah yang terlihat ketika lagunya seperti Kebyar Kebyar dan Kugadaikan Cintaku berhasil menyita perhatian penggemar musik. Gombloh memang seolah trubadur komplit, yang tak hanya memuja-muji tanah kelahiran, tak hanya menafsirkan pesan-pesan alam tapi juga memotret fenomena sosial kalangan working class bahkan mengedepankan kritik sosial yang tajam pula.
Betapa fasihnya Gombloh menuturkan sketsa kehidupan rakyat jelata sehari-hari memang terlihat dari deretan kata-kata yang dirangkainya dalam lagu-lagu ciptaannya seperti “Doa Seorang Pelacur Kilang-Kilang Poligami Poligamiâ Nyanyi Anak Seorang Pencuri Selamat Pagi Kotaku Bahkan Martin Hatch seorang peneliti dari Cornell University mempelajari lagu - lagu dalam album Gombloh Berita Cuaca (1982) dan mengangkatnya dalam sebuah karya ilmiah bertajuk Social Criticsm In The Songs Of 1980's Indonesian Pop Country Singers dan dipresentasikan dalam seminar musik The Society of Ethnomusicology yang berlangsung di Toronto Kanada pada 2 - 5 November 2000 silam.
Dalam makalahnya Martin Hatch meneliti kekuatan dan nilai lagu-lagu karya Gombloh dalam perspektif kehidupan sosial seperti Berita Cuaca Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng Denok-Denok Debleng Ujung Kulon Baloran 3600 Detik Kebayan-Kebayanâ œHitam Putih dan Kami dan Alam Memasuki era 80-an, Gombloh mulai menulis lagu-lagu bercorak humor seperti lagu Lepen (singkatan Lelucon Pendek) maupun Selopen (singkatan Seloroh Pendek) yang menghasilkan sebuah idiom yang begitu lekat di khalayak ramai: Kalau cinta melekat, tai kucing rasa coklat.
Disisi lain, Gombloh yang tercerabut dari budaya pop justru tak bergeming ketika harus menghasilkan lagu seperti Kugadaikan Cintaku yang berhasil terjual diatas jumlah 1 juta keeping. Di era inilah Gombloh seolah terjerembab pada karya-karya yang berorientasi ke pasar. Lalu bermunculanlah lagu-lagu seperti Apel , Hey Kamu Percayalah Cintaku Tetap Hangat Karena Iseng Arjuna Cari Cinta Konsumsi Cinta � hingga Tari Kejang . Gombloh pun mulai menulis lagu-lagu bertema pop untuk penyanyi Tyas Drastiana hingga Vicky Vendi. Menyatunya Gombloh dengan tema populis membuat sosoknya kian dikenal luas. Kini siapa yang tak mengenal Gombloh ketika tampil di layar TVRI pada acara-acara musik seperti Aneka Ria Safari dan Selekta Pop dengan dandanan yang menjadi trademark: tubuh kerempeng bersepatu kets, pakai topi, rambut dikuncir, kacamata hitam dan setelan putih-putih. Gombloh yang menghembuskan nafas terakhir pada 9 Januari 1988, tak lagi hanya didengar oleh kelompok tertentu saja. Ia telah menjadi milik siapa saja. DS
Harry Roeslie adalah ikon musik kontemporer. Boss Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) ini seorang jenius yang sangat terbuka terhadap berbagai bentuk kesenian. Bahkan saking terbukanya, awam seringkali dibuat sulit untuk dapat memahami pemikirannya. Dalam dunia Harry Roeslie memang bermuara keliaran ide, empati atas kehidupan pengamen jalanan, rasa muak terhadap kesewenangan dan entah apa lagi. Kata tabu tidak pernah mampir ke dalam benaknya. Pada album Titik Api dia menabrakan irama diatonik dengan pentatonik. Dia juga pernah memainkan lagu-lagu rock and roll milik The Rolling Stones. Salah satu pencapaian puncaknya terjadi pada pergelaran Opera Ken Arok, 1975, yang berlangsung di Bandung. Dua tahun kemudian karyanya tersebut beredar dalam bentuk album rekaman.
Djauhar Zharsyah Fachrudin Roesli lahir pada 10 September 1951. Talenta musikal Harry bahkan telah mencuat di sekolah dasar. Sewaktu duduk di kelas IV ia sudah mampu menciptakan hymne untuk sekolahnya. Begitu juga waktu di SMP dan berlanjut hingga SMA. Sekadar mengingatkan, pada awalnya Harry Roeslie adalah seorang penyanyi seriosa yang serius. Pada 1971 dia membentuk Gang Of Harry Roesli dengan personil Albert Warnerin (gitar, perkusi, vokal), Iwan Abdurachman (gitar, vokal), Janto Soedjono (drum, perkusi), Indra Rivai (organ, piano, perkusi) dan Harry Potjang (harmonika, perkusi, vokal). Salah satu albumnya yang monumental, Philosophy Gang, memperlihatkan perhatiannya yang besar terhadap isu lingkungan. Kepeduliannya pada persoalan sosial juga kerap menyeretnya pada berbagai peristiwa politik. Sebagai musisi, Harry Roeslie sepertinya mengambil jarak dengan industri musik itu sendiri. Sebagian besar karyanya yang terdokumentasi dalam 23 album tak ada yang sukses secara komersial.
Penjelajahan kreatif Profesor musik lulusan Rotterdam Conservatorium ini tak hanya merambah dunia rekaman, tetapi juga teater dan filmk layar lebar. (*) DMR 