Have an account?

YAP'S..............WELLCOME DUD...

Haiii... selamat datang di mp3abis, blog musik paling komplit... for now....hahaha, di sini anda bisa mencari informasi, download lagu, lirik lagu, cari alamat kursus musik, profil Artis, cari event, bahkan bisnis jual beli, cari sepatu, kaos, baju muslim, semuanya ada, bahkan bagi kamu yang ingin numpang mejeng atau pamer bakat bisa kamu lakukan di mp3abis, atau kamu mau beriklan it's OK, kami sudah sedikan halaman iklan baris gratis khusus buat anda, kirimkan saja data-data anda ke e-mail : mjafly@yahoo.com. atau bisa confirmasi melalui YM di pingbox yang kami sediakan, ok... selamat menikmati...

saran dan kritik akan kami terima selama demi kemajuan bersama....

mp3abis.... Ekpresikan Harimu....!!!!!! :))

Selasa, 01 Juni 2010

Club Eighties

Biography 
 

TAHUN 1998, di saat mayoritas orang sudah memikirkan masa depan dan segala macam kemajuan teknologinya, lima orang pemuda mendadak muncul dan mengajak Anda merasakan kembali euphoria tahun  80-an di mana hidup sepertinya tidak memiliki masalah yang berarti. Tampil dengan segala atribut khas era tersebut, seperti gelang handuk, ikat kepala handuk, jaket dengan bantalan bahu, lengan jas yang diserut sampai siku, sedikit gincu plus perona mata dan pipi. Jangan lupa tambahkan topi visor dan kacamata aviator. Jika enggan menggunakan aksesori rambut, mereka cukup menata rambut seperti idola remaja yang suka mengunyah permen karet: Lupus. Dan dalam waktu singkat, mereka pun menjadi idola para remaja.



PENCIPTA pelangi di jaman Millenium tersebut adalah Lembu Wiworo Jati (vokal), Cliffton  Cliff Jesse Rompies (gitar), Vincent Ryan Rompies (bass), Sukma  Ytonâ  Perdana (keyboard), dan Deddy  Desta Mahendra (drum). Mereka semua berasal dari kandang yang sama yakni Institut Kesenian Jakarta. Ide gila membuat band new wave ceria ini sebetulnya datang dari Desta dan Henry Irawan a.k.a Henry Foundation a.ka. Dj Batman. Merekalah yang memiliki ide memainkan musik dengan konsep mengarah ke tahun  80-an. Gagasan ini lantas disambut gembira oleh Vincent. Mereka bertiga kemudian menggandeng Lembu dan Yton. Tak lama kemudia Henry meninggalkan band, lalu Cliff   yang merupakan teman dari Vincent   ikut meramaikan armada gila ini. Mereka terbentuk karena ingin melepaskan diri dari keseragaman band-band yang ada di Tanah Air.  Kami menawarkan konsep musik lama dengan kemasan yang modern,  begitu jawab Lembu ketika diminta mendeskripsikan konsep musik yang mereka usung. Ini tidak lepas dari didikan band-band IKJ yang  mengajarkan  mereka untuk selalu jujur dalam berkarya,  Terserah mau membuat karya yang seperti apa, pokoknya apa yang ada di otak itu yang ditumpahkan ke musik kami, � kata Vincent yang baru saja dikaruniai seorang bayi laki-laki ini. Tahun 2000, Club Eighties merilis debut album self titled. Sebuah karya yang cukup fenomenal, mengingat konsep musik dan tampilan mereka saat itu masih asing dan sangat mencuri perhatian. Singel  Gejolak Kawula Muda dengan videoklip yang menampilkan dua orang bertanding badminton berhasil menyihir peminat musik Indonesia.  Sinting juga sih jika mengingat masa lalu,  kenang Lembu,  Dalam 2 tahun, kami hanya tampil sebanyak 11 kali, lalu langsung bikin album! Hahaha!  Enggan berlama-lama membiarkan fans mereka menunggu setelah kemunculan album pertama, akhirnya Club Eighties merilis album kedua berjudul 1982 di tahun 2002, menyusul album Summer  83 tahun 2005.

CLUB Eighties memang muncul di saat yang tepat, kala penggemar musik independen di Indonesia sedang ramai menggemari wabah musik new wave yang memang terkenal di era  80-an. Nama-nama lain seperti Goodnight Electric dan The Upstairs pun menjadi kiblat bagi para kaum muda. Namun seiring berjalannya waktu, perputaran musik pun berubah, begitu juga dengan selera pasar. Sementara mereka masih terjebak dengan nama band yang jelas-jelas mengarah ke era tertentu.  �Sebetulnya kami sempat terjebak dengan nama dan konsep musik yang kami pilih, � kenang Lembu,  Dulu kami memang pemain tunggal di industri ini dan itu berat sekali untuk kami. Saat itu banyak media yang bertanya berapa lama kita bisa bertahan. Lalu kami juga sempat dibilang sebagai sekumpulan pemuda pencari sensasi atau apalah. Tapi sampai saat ini, selama 8 tahun kami eksis, ternyata semua pertanyaan itu terjawab sudah. Apa yang sudah kami hasilkan 8 tahun lalu masih digemari dan saya yakin kedepannya akan terus berkembang. � Adalah kebanggaan tersendiri bahwa sekarang mereka sudah bisa bersanding dengan band-band besar lainnya. Tapi apakah langkah selanjutnya? Mereka tidak mungkin hanya berkutat dengan formula itu-itu saja dalam bermusik. Setidaknya harus ada sebuah pembaharuan di karya-karya selanjutnya. Hal ini disadari Cliff yang sedang sibuk menyiapkan materi untuk album baru mereka,  �Tiap berkarya, kami selalu mencoba menawarkan sesuatu yang baru. Setiap album baru pasti menawarkan konsep yang baru juga. Untuk album selanjutnya, kami membuat 4 lagu baru. Konsepnya sendiri lebih mengarah kepada new romantic macam Spandau Ballet bahkan Air Supply. Lirik akan dibuat lebih serius, supaya lebih mengena ke seluruh lapisan pasar musik.
   Musik boleh bertahan pada benang merah, namun penampilan mereka mau tidak mau sedikit berubah. Saat ini Club Eighties terpilih menjadi brand ambassador Adidas Original sejak bulan Juni 2006. Mereka terpilih karena karakter yang unik dan musik yang original di blantika musik Indonesia saat ini. Karena itulah penampilan mereka berlima sekarang terlihat lebih sporty, tidak terlalu glam seperti pada awal kemunculan mereka dahulu.
   Sebagai sosok idola, tentunya Club Eighties tidak selalu bergelimpangan pujian dan salut yang diberikan dari penggemar maupun media. Pasti akan selalu ada pihak-pihak yang mencibir eksistensi mereka, baik secara personil maupun dari karya mereka,  Pro dan kontra pasti akan selalu ada. Kami mendengarkan pendapat semua orang secara terbuka. Apa yang perlu kami dengarkan, akan kami jadikan masukan. Apa yang tidak perlu kami dengarkan, kami tidak terlalu mengambil pusing. Di balik tiap kritik yang muncul, pasti ada sebuah argumen kuat. Kami pun punya argumen kuat untuk menanggapi hal-hal seperti itu, cetus Lembu.  Menanggapi kritik miring tentang Club Eighties, kadang memang membuat emosi. Namun itu membuat kami berpikir, apakah kami yang sensitif, atau mereka yang tidak suka? Kenapa sih mereka bisa ngomong begitu? Tapi yah begitulah, harus pintar lah menghadapi kritik macam itu, � ucap Desta di tengah gurauan mereka berlima saat sesi foto berlangsung.
    Sekarang ini, mereka masih sibuk tampil di mana-mana, sibuk menggarap album, dan ada omongan bahwa mereka hendak membuat sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang hiburan. Awal tahun depan, mereka akan membuka sebuah manajemen artis,  Kami ingin berkarya di bidang lain yang masih sesuai dengan apa yang sedang kami kerjakan. Kami ingin melebarkan sayap, tutur Cliff mantap. Tentu saja mereka tidak akan bekerja berlima saja, mereka akan merekrut beberapa orang untuk bergabung menjadi armada mereka. Lantas, bagaimana nasib sang album keempat?  Album itu seharusnya sudah keluar, sudah lewat target,  jawab Vincent sambil tergelak.  �Akan ada kerjasama dengan sebuah perusahaan rekaman, namun belum ada perjanjian hitam di atas putih, jadi kami belum bisa bicara banyak mengenai hal itu, � sambung Lembu. Mereka mengaku sebagian materinya sudah siap, tinggal masuk dapur rekaman saja.  �Pokoknya begitu deal, kami langsung masuk studio dan rilis album! � ungkap Cliff.


SECARA individual, para personil Club Eighties memang sudah memiliki kesuksesannya masing-masing. Mereka sudah menjadi presenter yang banyak diminta untuk tampil di beberapa program televisi swasta. Ketika saya berbincang dengan mereka di sebuah studio di bilangan Gunung Sahari, mereka bercerita mengenai impian Club Eighties di masa yang akan datang. “Impian kami sebetulnya sudah terwujud sejak lama,� kata Yton, “Dulu, adalah hal yang sangat mustahil membawa konsep musik ’80-an ini ke industri musik Indonesia. Namun sekarang ternyata kami sudah mencapai apa yang kami inginkan sejak lama. Album kami disukai orang, image kami ditiru banyak penggemar, itu sudah membuat kami sangat puas.� Sementara itu Lembu memiliki mimpi yang sangat jauh ke depan, “Gue ingin sekali band ini tetap ada sampai kami tua, seperti Duran Duran. Memang nanti akan tiba saatnya kami menyelesaikan karir musik ini. Tapi jika pada titik itu orang masih menginginkan kami untuk main band lagi, then Club Eighties must be something for them,� cetusnya. Tapi bagaimana jika konsep musik yang mereka tawarkan itu pada akhirnya tidak diminati lagi? “Club Eighties bukan sebuah pilihan, tapi kamilah yang membuat pilihan tersebut,� celoteh Yton, “Jadi walaupun musik delapanpuluhan sudah selesai masanya, maka kami akan tetap ada.� YA

0 komentar:

Poskan Komentar

BAGI YANG INGIN BERBAGI BERITA, ATAU INGIN PROMOSI BAKAT ANDA, ATAU PROMASI BAND DAN LAGU ANDA, SILAHKAN KIRIM DATA ANDA KE : e-mail : mjafly@yahoo.com